Edukasi

Sejarah Perkembangan Buku: Memahami Asal-Usul Terbitnya Buku

Dalam peradaban manusia, buku telah menjadi tonggak penting dalam penyebaran pengetahuan, warisan budaya, dan ekspresi kreativitas. Namun, perjalanan sejarah perkembangan buku tidaklah instan. Sejarah kelahiran buku melibatkan berbagai peradaban kuno yang secara bertahap dalam mengembangkan sistem penulisan.

Salah satu tonggak awal adalah penulisan pada zaman Mesopotamia kuno, yang tercipta untuk mencatat dalam bentuk lempengan dari tanah liat. Era revolusi buku kemudian berkembang dengan penemuan format codex, lembaran dengan jahitan yang tersampul. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah beberapa fenomena penting pada perkembangan sejarah terlahirnya buku:

Sejarah Perkembangan Buku Era Kuno

Buku pada Zaman Mesir Kuno

sejarah perkembangan buku
Source: https://nationalgeographic.grid.id/

Pada masa kuno, buku belum mengambil bentuk seperti yang kita kenal saat ini, dengan kata-kata yang tercetak rapi dengan kertas putih. Sebaliknya, tulisan-tulisan pada masa itu tercatat pada media, seperti kepingan batu (prasasti) atau kertas yang terbuat dari daun papyrus.

Papyrus adalah bahan yang sangat umum pada masa kuno. Media ini terbuat dari dedaunan tumbuhan yang tumbuh pada tepi Sungai Nil, bernama papyrus. Proses pembuatan papyrus merupakan hasil dari pengeringan serat-serat dedaunan tumbuhan tersebut, yang kemudian tersusun menjadi lembaran tipis yang menjadi media dalam menulis.

Bangsa Mesir Kuno terkenal sebagai perintis dalam pengembangan sistem tulisan yang tercipta dalam ukiran hieroglif. Tulisan hieroglif, yang muncul ribuan tahun yang lalu, menggunakan gambar-gambar sebagai simbol-simbol untuk merepresentasikan kata atau konsep tertentu. Bangsa Mesir menggunakan hieroglif untuk menulis dalam berbagai media, termasuk batu-batu, tanah liat, dan kertas papyrus.

Papyrus, yang merupakan produk khas Mesir yang terbuat dari tumbuhan papyrus yang tumbuh subur pada tepi Sungai Nil, menjadi salah satu media utama untuk menulis hieroglif. Lembaran-lembaran tipis dari tumbuhan ini terikat bersama hingga membentuk gulungan-gulungan panjang. Tulisan-tulisan hieroglif yang terukir atau terlukis pada papyrus membentuk gulungan yang kemudian tercipta sebagai buku kuno.

Buku pada Zaman Romawi

Bangsa Romawi juga mengadopsi penggunaan papyrus sebagai media tulisan yang umum. Gulungan-gulungan papyrus menjadi salah satu bentuk utama buku-buku kuno Romawi. Namun, salah satu tantangan utama dalam penggunaan papyrus adalah panjang gulungannya yang sering kali mencapai puluhan meter. Untuk mengatasi masalah panjang gulungan, beberapa gulungan papyrus bahkan dipotong-potong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Meskipun demikian, beberapa gulungan papyrus yang masih utuh bertahan hingga saat ini dan menjadi bukti fisik dari kehidupan intelektual dan budaya masyarakat Romawi kuno. Salah satu contoh yang menakjubkan adalah gulungan papyrus terpanjang yang terdapat di British Museum di London, dengan panjang mencapai 40,5 meter.

Buku pada Abad Pertengahan

sejarah perkembangan buku
Source: id.wikipedia.org

Kesulitan dalam penggunaan gulungan papyrus pada masa kuno akhirnya mengilhami perubahan signifikan dalam bentuk buku. Manusia, yang selalu mencari kemudahan dan efisiensi, mulai mencari solusi untuk memperbaiki metode penyimpanan dan pembacaan tulisan mereka. Seiring dengan kemajuan teknologi, pada awal abad pertengahan mulai menciptakan bentuk baru buku yang lebih praktis dan mudah digunakan.

Perubahan tersebut terwujud dalam penggantian gulungan papyrus dengan format baru yang dikenal sebagai codex. Codex adalah kumpulan lembaran kulit domba terlipat yang terlindungi oleh kulit kayu keras sebagai sampulnya. Format ini memberikan pembukaan halaman menjadi lebih mudah dan susunan teks yang lebih efisien ketimbang dengan gulungan papyrus yang panjang.

Pengenalan format codex membawa perubahan besar dalam sejarah buku, membuka babak baru dalam perkembangan peradaban kehidupan manusia. Codex tidak hanya mempermudah pengarsipan dan penyebaran pengetahuan yang lebih luas, tetapi juga memberikan fondasi bagi evolusi lebih lanjut dalam teknologi percetakan tulisan. Dengan demikian, perubahan dari gulungan papyrus ke format codex adalah langkah penting dalam transformasi buku dari masa kuno hingga ke bentuk yang kita kenal dan gunakan sekarang ini.

Sejarah Perkembangan Buku Era Modern

Perkembangan Buku di Dunia

Perkembangan buku pada era modern telah mengalami transformasi yang signifikan, terutama seiring dengan kemajuan teknologi dalam praktik membaca dan belajar. Salah satu tonggak bersejarah dalam perkembangan buku modern adalah penemuan mesin cetak movable type oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15. Mesin cetak ini mengubah cara buku terproduksi secara massif, sehingga pencetakan buku dapat lebih cepat dan efisien dalam jumlah yang besar. Hal ini menyebabkan penyebaran pengetahuan dan akses terhadap buku menjadi lebih luas di kalangan masyarakat.

Selanjutnya, pada abad ke-19 hingga 20, perkembangan teknologi percetakan berlanjut dengan munculnya teknik reproduksi foto, dan teknologi pencetakan digital. Mesin ini mempermudah produksi buku dengan biaya yang lebih rendah dan dalam waktu yang lebih singkat. Selain itu, inovasi dalam teknologi percetakan juga memberikan ruang bagi eksperimen dalam desain buku, termasuk penggunaan warna, ilustrasi, dan layout yang kreatif.

Selain dari sisi produksi, perkembangan dalam teknologi komunikasi dan internet juga telah mengubah cara buku dikonsumsi dan diakses oleh pembaca modern. Kini, buku elektronik (e-book) telah menjadi alternatif populer bagi buku cetak, mempermudah pembaca untuk membaca buku secara digital melalui perangkat elektronik seperti tablet, e-reader, atau smartphone. Selain itu, kemajuan dalam platform digital dan toko buku elektronik telah memberikan peluang bagi penulis untuk menerbitkan karya mereka dengan lebih mudah, tanpa ketergantungan pada penerbit tradisional.

Perkembangan Buku di Indonesia

Perkembangan teknologi dan munculnya era industri 4.0 telah mengubah lanskap industri perbukuan secara drastis. Pelaku industri perbukuan mulai memperluas jangkauan mereka ke dunia maya untuk meningkatkan penjualan dan menjangkau audiens yang lebih luas. Salah satu aspek penting dalam memahami perubahan ini adalah melihat potensi pangsa pasar buku di Indonesia, terutama di kalangan kelas menengah yang semakin berkembang.

Dengan kemunculan penerbit-penerbit digital atau self-publishing online seperti nulisbuku.com, leutikaprio.com, dapurbuku.com, dan diandracreative.wordpress.com, para penulis dan penerbit dapat menjangkau pembaca seluruh dunia melalui platform daring. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dengan penjualan buku offline. Akibatnya, dalam publikasi, distribusi, dan konsumsi mengalami penurunan seiring dengan pergeseran preferensi pembaca ke ranah digital.

Menurut catatan IKAPI dalam bukunya berjudul Industri Penerbitan Buku Indonesia, kelas menengah Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar buku yang signifikan. Hal ini menggambarkan pentingnya memahami tren konsumen dan menyesuaikan strategi pemasaran dengan perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia.

Dengan demikian, terlihat bahwa industri perbukuan di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan seiring dengan perubahan preferensi konsumen. Penerbitan buku secara daring telah membuka pintu bagi lebih banyak orang untuk menerbitkan karya mereka sendiri dan menjangkau audiens global. Namun, tantangan yang dihadapi oleh industri perbukuan juga tidak bisa diabaikan, terutama dalam menghadapi perubahan pasar yang ada dengan tepat.

 

 

Penulis: Farid Ziqra  |   Editor: Tiara Rahmayanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *