Edukasi

Jenis Gempa: Menilik Ragam Gempa Bumi

Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang signifikan dan memiliki dampak yang sangat luas. Mengapa demikian? Gempa bumi terjadi karena adanya pergerakan lempeng bumi yang mengakibatkan guncangan atau getaran pada permukaan bumi. Setiap tahun, sekitar 500.000 gempa bumi terjadi dan memiliki intensitas yang beragam, mulai dari gempa berskala kecil hingga yang berskala besar. Gempa bumi terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan klasifikasi penyebabnya, kedalaman hiposentrum, dan karakteristik gelombang atau getaran gempa. Berikut rangkuman mengenai jenis-jenis gempa bumi, simak selengkapnya!

Jenis Gempa
Source : Pinterest/creativemarket

Bahaya Gempa Bumi

Setiap jenis gempa bumi memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda-beda. Selain itu, dampak gempa bumi sangat merusak, baik itu kerusakan bangunan atau infrastruktur, kerugian ekonomi, hingga memakan korban jiwa. Oleh karena itu, mitigasi dan penanggulangan gempa sangat penting agar kita dapat mempersiapkan diri dan melindungi diri serta komunitas dari bahaya terkait gempa bumi.

Jenis Gempa Bumi

A. Berdasarkan Penyebabnya

Tahukah kamu? Gempa bumi tidak hanya disebabkan oleh alam melainkan ada yang disebabkan oleh aktivitas manusia juga lho. Berikut penjelasannya.

1. Gempa Tektonik

Gempa tektonik merupakan gempa yang disebabkan adanya aktivitas lempeng tektonik karena tekanan dari dalam bumi. Aktivitas tersebut berupa pergerakan lempeng tektonik yang menyebabkan lempeng bergeser, bertabrakan, atau berpisah satu sama lain.

Gempa tektonik sering terjadi di zona-zona perbatasan lempeng tektonik seperti Cincin Api Pasifik. Terdapat beberapa mekanisme utama penyebab gempa tektonik, antara lain: pergerakan naik turun lempeng tektonik di zona subduksi, gesekan antar lempeng di zona transformasi, dan gerakan mendatar di sepanjang patahan sesar.

jenis gempa
Source : Pinterest/earthscienceind

Gempa tektonik termasuk gempa berskala besar dan dapat memiliki magnitudo yang tinggi. Gempa tektonik dapat mengakibatkan longsor dan menimbulkan potensi terjadinya tsunami apabila terjadi di bawah laut. Dampak gempa tektonik sangat merusak, seperti kerusakan bangunan atau infrastruktur, kerusakan lingkungan, gangguan sosial ekonomi, dan memakan korban jiwa.

Oleh karena itu, pentingnya mitigasi dan penanggulangan yang tepat untuk mengurangi risiko dan dampak negatif akibat gempa. Berikut beberapa strategi umum yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Membangun bangunan dan infrastruktur dengan desain yang tahan terhadap guncangan dan getaran gempa.
  • Membentuk zonasi gempa dengan memilih lokasi yang aman dari risiko gempa.
  • Mengembangkan dan mengimplementasikan sistem peringatan dini.
  • Mengedukasi masyarakat tentang tindakan darurat yang harus diambil selama dan setelah terjadi gempa, meliputi pembelajaran tentang prosedur evakuasi, pertolongan pertama, dan lainnya.
  • Membuat rencana darurat dan protokol tanggap bencana.

2. Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik terjadi akibat adanya aktivitas magma di bawah permukaan bumi. Aktivitas magma di dalam gunung berapi menyebabkan tekanan yang memicu pergerakan lapisan batu di sekitarnya. Gempa vulkanik sering terjadi bersamaan dengan letusan gunung berapi atau peningkatan emisi gas.

Karakteristik gempa vulkanik berbeda dengan gempa tektonik. Gempa vulkanik cenderung memiliki magnitudo yang lebih rendah. Namun, memiliki dampak yang signifikan terutama daerah sekitar gunung berapi aktif.

Source : Pinterest/ecologiaverde

Berikut beberapa upaya mitigasi dan penanggulangan yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Melakukan pemetaan dan pemantauan aktivitas gunung berapi.
  • Membangun sistem peringatan dini terkait ancaman letusan gunung berapi.
  • Menetapkan rute evakuasi dan lokasi pengungsian.
  • Membangun infrastruktur dengan sistem drainase yang baik untuk mengurangi risiko longsor dan banjir lahar.
  • Sosialisasi dan edukasi masyarakat terkait tindakan dalam situasi darurat serta penggunaan peralatan evakuasi.

3. Gempa Runtuhan

Aktivitas pertambangan seperti peledakan, penggalian, dan penggunaan alat berat menyebabkan pergeseran dan penumpukan massa batuan yang signifikan di dalam tanah menjadi pemicu terjadinya gempa runtuhan.

Dampak gempa runtuhan akibat aktivitas pertambangan tidak hanya merusak infrastruktur, melainkan dapat mengganggu kestabilan lereng, dan mengakibatkan longsor. Untuk mengurangi risiko dan dampak gempa runtuhan, diperlukan upaya mitigasi yang tepat sebagai berikut:

  • Mengontrol ledakan dengan memanfaatkan teknologi yang canggih.
  • Pemantauan dan evaluasi terkait kondisi geologis sekitar lokasi pertambangan.
  • Implementasi praktik Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

4. Gempa Ledakan

Jenis Gempa
Source : Pinterest/atlasobscura

Berbeda dengan gempa bumi alami yang terjadi akibat aktivitas tektonik, gempa ledakan biasanya terjadi secara lokal dan terkait dengan aktivitas manusia. Gempa ledakan terjadi akibat aktivitas ledakan besar, seperti peledakan tambang dan uji coba nuklir.

Dampak akibat gempa ledakan menimbulkan kerusakan hingga dapat memakan korban jiwa. Oleh karena itu, perlu adanya upaya mitigasi dan pengendalian gempa ledakan, yaitu:

  • Melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas ledakan besar.
  • Menggunakan teknologi pendeteksi dini yang dipasang di lokasi-lokasi rentan ledakan gempa.
  • Melakukan kampanye edukasi ke masyarakat mengenai bahaya gempa ledakan.

B. Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum

Pengklasifikasian gempa berdasarkan kedalaman hiposentrum, yaitu titik di bawah permukaan bumi tempat pertama kali gempa terjadi.

1.Gempa Dangkal

Gempa dangkal terjadi pada kedalaman yang relatif dekat dengan permukaan bumi, yaitu kurang dari 60 km. Dampak akibat gempa dangkal biasanya lebih besar daripada gempa lainnya. Getaran yang timbul akibat gempa tidak memiliki jarak yang signifikan untuk meredam energinya sebelum mencapai permukaan.

Gempa dangkal sering diikuti oleh gempa susulan (aftershock) yang dapat menambah kerusakan sehingga berbagai upaya mitigasi dan pengendalian perlu dilakukan, antara lain:

  • Pembangunan infrastruktur tahan gempa.
  • Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tindakan yang tepat saat terjadi gempa.
  • Pengembangan sistem peringatan dini.
  • Inovasi dalam pengempangan teknologi mitigasi.

2. Gempa Menengah

Gempa menengah merupakan gempa yang terjadi di kedalaman antara 60-300 km di bawah permukaan bumi. Terjadi di zona subduksi, di mana lempeng lempeng tektonik bertabrakan dan salah satunya tenggelam ke dalam mantel bumi.

Karena gempa tersebut berada pada kedalaman yang cukup jauh dari permukaan, kerusakan yang timbul cenderung lebih terbatas dibandingkan dengan gempa dangkal. Berikut upaya mitigasi dan pengendalian untuk menekan risiko kerusakan akibat gempa menengah.

  • Membangun infrastruktur dan fasilitas yang memenuhi standar gempa bumi.
  • Mengoperasikan sistem peringatan dini.
  • Merencanakan evaluasi dan zonasi terhadap wilayah yang rentan terhadap gempa bumi.

3. Gempa Dalam

Gempa dalam terjadi di bawah permukaan bumi pada kedalaman lebih dari 300 km. Karena jaraknya yang jauh dari permukaan, sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan di permukaan bumi. Selain itu, energi gempa telah merambat melalui lapisan bumi yang lebih dalam sebelum mencapai permukaan.

Namun, tetap diperlukan upaya mitigasi dan pengendalian untuk menekan risiko gempa antara lain:

  • Mengedukasi masyarakat terkait tindakan yang tepat saat terjadi gempa, seperti berlindung di bawah meja dan memberikan pelatihan untuk reaksi darurat dan evakuasi.
  • Pemantauan gempa bumi menggunakan seismometer atau jaringan sensor lainnya untuk mendeteksi dini terjadinya gempa.

C. Berdasarkan gelombang/getaran gempa

Jenis gempa berdasarkan gelombang atau getaran yang timbul selama terjadinya gempa. Dua gelombang utama yang terbentuk ialah gelombang primer (P) dan gelombang sekunder (S).

Jenis Gempa
Source : Pinterest/weebly

1. Gelombang Primer (P)

Gelombang primer merupakan gelombang longitudinal yang merambat dengan kecepatan tinggi melalui bumi, dapat merambat melalui medium berupa padatan, cairan, dan gas. Karakteristik gelombang P meliputi perubahan volume dan kepadatan material di sepanjang gelombang.

2. Gelombang Sekunder (S)

Gelombang sekunder merupakan gelombang transversal yang merambat lebih lambat dari gelombang P dan hanya dapat merambat melalui medium padat. Karakteristik gelombang S meliputi gerakan geser tegak lurus terhadap arah perambatan gelombang.

Karakteristik gelombang primer dan sekunder memainkan peranan penting dalam studi gempa bumi, karena karakteristik keduanya memberikan informasi mengenai sifat material dan struktur dalam bumi. Hal ini kemudian dimanfaatkan para ilmuwan untuk meneliti, menganalisis, dan memodelkan gempa bumi, serta membantu dalam pengembangan teknik mitigasi dan pengendalian risiko gempa bumi.

Melalui penjelasan di atas, kita telah mengetahui penyebab terjadinya gempa bumi ada dua, yaitu secara alami dan akibat dari aktivitas manusia. Selain itu, ada pengklasifikasian jenis gempa berdasarkan penyebabnya, kedalaman hiposentrum, dan karakteristik gelombang hingga upaya mitigasi dan pengendalian untuk menekan risiko atau potensi dari gempa bumi. Semoga bermanfaat!

Baca juga : Tragedi Holocaust: Genosida Terbesar Sepanjang Sejarah

 

Penulis: Alfi Hamduna  | Editor: Tiara Rahmayanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *