EdukasiPengetahuan Umum

Etika Media Sosial, Gunakan Dasar “T.H.I.N.K”!

Media sosial telah menjadi sebuah bagian penting yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Kita semua adalah seorang makhluk sosial.  Dengan adanya media sosial, kita mampu melakukan interaksi dengan orang lain, baik yang sudah kita kenal maupun belum, tapi tak jarang kita melupakan etika dalam menggunakan media sosial.

Media sosial merupakan sebuah platform digital. Mulai dari besarnya kemungkinan manipulasi konten, hingga penyebaran yang super cepat menghantuinya. Manipulasi konten meliputi proses penyuntingan atau retouch, yang belakangan ini semakin mudah dengan munculnya teknologi AI. Distribusi yang super cepat juga seringkali menurunkan akurasi infomasi. Padahal, menurut Social Recruiting Survey pada 2014, 55% HRD mempertimbangkan penerimaan kandidat dari sosial media mereka, loh! Oleh karena itu, hati-hatilah dalam mengunggah konten di media sosial, karena media sosial mencerminkan kehidupan dan karakter seseorang. Nah, berikut etika media sosial dengan singkatan “THINK”!

etika media sosial
Source: Ben Francia

Etika Mengunggah Media “T” : Is it True?

Etika sosial media yang pertama ialah, “Apakah infomasinya benar?”.  Unggahlah sesuatu yang kamu sudah yakin seratus persen benar. Untuk mengecek kebenarannya, kamu bisa melihat dari aspek sumbernya. Apakah sumbernya terpercaya? Sumber terpercaya dapat melalui portal berita seperti Kompas, Liputan 6, Detik, dan lainnya. Pastikan informasi tersebut bukan hoaks atau hanya buatan orang belaka. Jika menyebarkan informasi yang ternyata hoaks atau fitnah, kita bisa dapat masalah. Misalnya, ketika anggota APRIL, Naeun mendapat berita bahwa ia adalah pelaku bullying. Fitnah itu membawa Naeun dalam kegagalan membintangi drama “Taxi Driver” pada 2021. Naeun pun mengusut kasus ini ke kepolisian dan kasus ini berakhir dengan permintaan maaf oknum tersebut.

april naeun
APRIL Naeun (Source: Celebmafia.com)

Etika Mengunggah Konten “H” : Is it Helpful?

Dalam menggunakan sosial media, kita perlu berpikir. Apakah informasi dalam konten ini membantu? Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi apakah informasi itu berguna juga bagi orang lain. Akankah pembaca-pembaca memperoleh wawasan baru dari informasi yang kamu sebarkan. Contohnya, kamu adalah seseorang yang hobi memasak. Kamu bisa mengunggah resep-resep masakanmu. Dengan begitu, para pembaca yang mengunjungi akunmu bisa menambah wawasannya dalam memasak dan mencoba resepmu.

“I” Pengaruh Konten : Is it Inspiring?

Konten kita mungkin bisa membantu, tapi apakah isinya mampu menggerakan pembaca untuk melakukannya? Apakah informasi yang kita berikan bisa memberikannya pengaruh dan menginspirasinya untuk melakukan hal yang sama. Itulah pentingnya personal branding. Personal branding ialah sebuah pembentukan identitas yang membentuk respon emosional seseorang mengenai kualitas dan karakter pemilik akun. Semua tergantung pada apa yang kita unggah, apabila kita memakai sosial media untuk hal negatif, branding kita akan buruk di mata orang lain. Sebaliknya, apabila kita menggunakan sosial media kita untuk menyebar kesan positif tentang passion kita, kreativitas kita, kehidupan kita yang apa adanya dan kontribusi kita kepada masyarakat, kita akan mampu mendorong orang melakukan hal yang positif. Misalnya, kita suka berolahraga. Memproduksi video-video tutorial olahraga ringan atau vlog berolahraga dapat menarik yang mengganggap olahraga itu sulit untuk mencoba olahraga. Salah satu akun Youtube tentang olahraga adalah Emi Wong.

emi wong sosial media
Emi Wong (Source: thebeatasia)

Etika “N” Kebutuhan Media : Is it Necessary?

Sebelum memposting sesuatu, alangkah baiknya bila kita merenungkannya terlebih dahulu, apakah benar-benar perlu menguggahnya. Apakah orang lain perlu tahu juga tentang hal ini atau kita hanya ingin pamer saja? Jangan mengunggah sesuatu yang bersifat personal. Data-data pribadi bisa saja secara tak sengaja terekspos.  Ayo kita unggah sesuatu yang bermanfaat saja bagi orang banyak. Misalnya perkembangan situasi ketika banjir atau hujan deras, sehingga pembaca sekitar bisa lebih hati-hati saat mengakses jalan.

Etika Terakhir “K” : Is it Kind?

Sebelum mempublikasikan konten, periksa dan pikir kembali apakah isinya berisi hal-hal baik. Ketikan tidak memiliki nada, tak sama seperti bicara langsung. Orang bisa saja tak menangkap intinya sepenuhnya, atau bahkan salah menginterpretasikan. Pembaca juga bisa merasa terluka ketika membaca apabila isinya adalah konten negatif yang kurang nyaman untuknya. Publikasilah sesuatu yang membantu membangun personal brandingmu. Apabila keluhannya bersifat subjektif dan berisi ujaran kebencian kepada seseorang. Sang korban mungkin bisa membawa hal tersebut ke ranah hukum, atau paling parah dapat berupa cyberbully yang mengakibatkan kematian. Contohnya seperti kasus Sulli ex-F(X) pada 2019. Ia merenggut nyawanya sendiri setelah tak mampu menahan hujatan netizen.

fx sulli
Sulli (Source: drama.fandom.com)

Nah, usai sudah pemaparan mengenai etika sosial media, “T.H.I.N.K”! Karena media sosial adalah sebuah wadah berkomunikasi dengan orang lain, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam menggunakannya, ya! Pikirlah terlebih dahulu dalam lima aspek : benar, membantu, menginspirasi, perlu dan baik. Jika kita memiliki emosi negatif, sebaiknya jangan gegabah menyebarkannya ke sosial media, lebih baik mengelolanya dulu dengan beberapa tips ini.


Writer: Rebecca Maria Graciella Efendy | Editor: Kayla Adzkia Shabrina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *