EdukasiPsikologis

Essay: Perjuangan untuk Bangkit Pasca Kematian Seseorang

Pasca kematian seseorang cenderung memberikan rasa sakit yang mendalam bagi orang yang kehilangan. Kadang kala, rasa sakit yang muncul memberikan tekanan dan stres secara psikis, sehingga mengakibatkan seseorang merasa terpuruk. Pada saat seperti itu, perjuangan untuk bangkit sangat penting.

Berjuang untuk bangkit dari keterpurukan memanglah tidak mudah. Hal ini karena adanya kekosongan dan perubahan hidup yang muncul pasca kematian orang tercinta. Oleh karena itu, peran orang sekitar dan lingkungan sangat penting untuk membangkitkan seseorang dari keterpurukan.

Resiliansi, Perjuangan untuk Bangkit Dari Keterpurukan

perjuangan untuk bangkit
Source: vitk.vision.org.in

Resiliensi merupakan kemampuan atau perjuangan setiap orang untuk menghadapi tantangan dalam segala kesulitan hidup terutama setelah kematian seseorang. Saat berada dalam keterpurukan, seringkali ada keinginan untuk bangkit dan berjuang. Namun, terkadang perasaan itu sirna, timbul tenggelam karena tidak adanya dukungan. Oleh karena itu, resiliensi dan dukungan sosial dari lingkungan sangat perlu dalam membangkitkan rasa perjuangan dalam diri seseorang.

Mayordomo, dkk (dalam Amalia, Rahman, dan Zain, 2021) menjelaskan bahwa faktor dominan dalam mengelola dan merancang masalah, yaitu beradaptasi dengan perubahan, serta mengelola respon emosional dalam menghadapi banyak tuntutan, di mana tujuan akhir dari proses tersebut adalah resiliensi. Di Indonesia, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir pada saatcovid-19,banyak sekali masyarakat yang terkena virus atau wabah tersebut sehingga banyak orang orang yang terinfeksi dan bahkan sampai meninggal dunia. Penyebab dari hal tersebut tidak lain karena ganasnya virus. Oleh karena itu, individu yang kehilangan orang tercinta pasca kematian harus mampu berjuang menghadapi kesulitan hidup.

Dukungan Sosial Bagian Penting Dari Perjuangan untuk  Bangkit Pasca Kematian Orang Terdekat

perjuangan untuk bangkit
Source: universitaspsikologi.com

Dukungan sosial merupakan rasa nyaman secara nyata yang seseorang dapatkan dari lingkungan saat menghadapi stres setelah kematian seseorang. Oleh karena itu, individu yang kehilangan seseorang setelah kematian perlu mengalami perubahan hidup sehingga membutuhkan dukungan sosial. Menurut Aziz dan Fatma (2013: 141-159), meninjau dari kebutuhan psikis, saat seseorang sedang menghadapi masalah, baik ringan maupun berat, maka orang tersebut akan cenderung mencari dukungan sosial dari orang sekitar.

Hal ini karena mereka membutuhkan perhatian dari orang-orang sekitar yang memiliki hubungan sosial dengannya melalui tingkah laku agar merasa bernilai dan merasakan cinta. Selain itu, dukungan sosial juga bisa berasal dari tempat yang ada di sekitar, seperti lingkungan pekerjaan dan teman sebaya. Cohen dan Syme dalam (Aprilia, 2013) menyebutkan bahwa dukungan sosial berasal dari tempat kerja, keluarga, pasangan, teman atau sahabat, karena dukungan sosial efektif untuk mengurangi penyebab stres atau depresi psikologis di masa-masa sulit dan saat seseorang berada di bawah tekanan.

Menurut Perlmutter & Hall dalam (Aprilia, 2013), hidup dalam peran orang-orang yang telah pergi karena kematian, memberikan perubahan dalam hidup seseorang yang merasa kehilangan. Alhasil, hal tersebut dapat memicu stres berlebih yang berdampak negatif terhadap kehidupan emosional seseorang. Pasalnya, individu tidak dapat ber-resiliensi atau berjuang dengan maksimal terhadap perubahan yang ada dapat menimbulkan masalah secara emosional.Di sisi lain, terganggunya kehidupan emosional dapat berdampak negatif apabila individu memiliki resiliensi yang rendah.

Hal tersebut tentu membuatnya tidak mampu bangkit dari keterpurukan, sehingga individu tersebut semakin terpuruk dan merasa tidak berdaya. Dalam penelitiannya, Mark W. M (2015) menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara tingkat resiliensi yang rendah pada individu dengan gangguan psikologis, karena individu dengan tingkat resiliensi yang rendah memiliki risiko sangat tinggi mengalami gangguan psikologis, seperti stres, depresi, kecemasan, dan gangguan stress pasca trauma (PTSD).¬

Simpulan

Berdasarkan penjelasan yang ada, sampailah pada simpulan bahwa kehilangan adalah peristiwa yang pasti menimpa setiap orang. Kehilangan orang terdekat pasca kematian tentu meninggalkan rasa sakit pada setiap individu yang merasa kehilangan. Saat seperti ini, orang terdekat dan lingkungan berperan penting dalam menumbuhkan sikap perjuangan untuk bangkit atau resiliensi dalam diri individu tersebut. Untuk menumbuhkan resiliensi, dukungan sosial pun dibutuhkan.

Resiliensi yang merupakan kemampuan atau sikap perjuangan seseorang untuk menghadapi tantangan memiliki hubungan erat dengan dukungan sosial dalam membantu individu untuk bangkit. Hal ini karena resiliensi dan dukungan sosial dari lingkungan sangat berarti bagi seseorang untuk berjuang dari keterpurukan. Dukungan sosial sendiri adalah rasa nyaman secara nyata yang datang dari lingkungan orang tersebut. Dengan adanya dukungan sosial, individu yang kehilangan setelah kematian dapat mengatasi perubahan hidupnya.

Pasalnya, individu yang tidak mendapat dukungan sosial akan menimbulkan masalah secara emosional. Terganggunya kehidupan emosional dapat berdampak negatif jika individu tersebut juga memiliki resiliensi yang rendah. Alhasil, ia tidak mampu bangkit dari keterpurukan. Oleh karena itu, bersamaan dengan ini, penulis sangat berharap agar individu yang kehilangan orang tercinta dapat melakukan yang terbaik dalam berjuang untuk bangkit.


Biodata Diri Penulis:

Nama: Farhan Hendiansyah

Status: Mahasiswa

Asal Intansi: UNIVERSITAS PARAMADINA

 

Daftar Pustaka

Abdul Aziz & Anne Fatma. (2013). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Orang Tua yang Memitiki Anak Autis. Talenta Psikologi.

 Amalia, I. Fauzi Rahman, dan Hafizh Zain, A. (2021). Konsep Diri Sebagai Prediktor Resiliensi Pada Mahasiswa. Psikostudia Jurnal Psikologi.

 Mark W. M. (2015).Low Resilience as An Independet Predictor of Depressive Symptomatology.

 Purnomo, N. A. S. (2014). Resiliensi Pada Pasien Stroke Ringan Ditinjau dari Jenis Kelamin. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan.

 Winda Aprilia.  (2013). Resiliensi dan Dukungan Sosial pada Orang Tua Tunggal. Psikoborneo.

 

Author: Farhan Hendiansyah  |  Editor: Nabilah Ghina Mawaddah Rifayanti

Baca Juga: Essay: Semangat Perjuangan Menggapai Puncak Kejayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *