EdukasiPengetahuan Umum

Budaya Silaturahmi di Indonesia Memudar? Ini Alasannya!

Pasti kalian tidak asing lagi ‘kan dengan salah satu budaya yang sering kita dengar, yaitu silaturahmi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari silaturahmi adalah “tali persaudaraan” atau “tali persahabatan”. Silaturahmi merupakan ikatan atau hubungan yang erat antara individu, keluarga, atau masyarakat yang dapat bermakna saling menghormati, membantu, dan menjaga kebersamaan.

Silaturahmi juga mengandung makna pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama dalam kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi apakah kalian tahu bahwa semakin seiring berjalannya waktu, budaya silaturahmi di Indonesia semakin ditinggalkan oleh kebanyakan orang. Melakukan silaturahmi sebenarnya tidak hanya ketika hari raya saja tetapi dapat dilakukan kapan pun dan di mana saja. Mari kita telaah faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya budaya Silaturahmi di Indonesia untuk pemahaman yang lebih baik!

Alasan yang Mempengaruhi Pudarnya Budaya Silaturahmidi Indonesia

1. Kemajuan Teknologi

Pengaruh teknologi canggih, seperti media sosial dan gadget, turut berperan dalam memudarnya budaya silaturahmi di Indonesia. Perubahan pola komunikasi menuju interaksi secara online, kesibukan yang membuat orang terpaku pada layar ponsel, dan penurunan kualitas komunikasi sosial secara langsung menjadi faktor utama yang mengurangi kesempatan untuk menjalin dan memperdalam hubungan persaudaraan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya hubungan dengan orang lain juga menyebabkan terisolasi dari masyarakat dan menjauhkan orang dari nilai-nilai tradisional silaturahmi yang ada di Indonesia.

2. Kesibukan Setiap Hari Selalu Menjadi Alasan

Silaturahmi merupakan nilai budaya yang penting. Namun, sering kali terabaikan dalam kehidupan manusia di zaman modern. Banyak orang sering kali menjadikan kehidupan yang sibuk sebagai alasan utama untuk tidak meluangkan waktu dalam menjalin hubungan dengan orang lain untuk memperkuat silaturahmi. Rutinitas sehari-hari yang padat dengan pekerjaan, aktivitas sosial, dan komitmen lainnya membuat orang cenderung fokus pada diri sendiri dan keluarga inti saja sehingga menyisihkan waktu untuk bertemu dan berinteraksi dengan anggota keluarga yang lebih luas, teman, dan tetangga menjadi semakin sulit. Seiring berjalannya waktu, alasan ini semakin menguatkan persepsi masyarakat bahwa silaturahmi hanya perlu dilakukan pada acara tertentu, seperti saat hari raya, padahal silaturahmi seharusnya menjadi bagian yang penting dari kehidupan sehari-hari.

3. Kesadaran Masyarakat yang Kurang

Faktor lain yang turut mempengaruhi memudarnya budaya silaturahmi di Indonesia adalah kesadaran masyarakat yang kurang terhadap pentingnya budaya ini. Banyak orang cenderung menganggap silaturahmi sebagai hal yang kurang penting atau hanya diperlukan pada momen-momen tertentu seperti hari raya.

Kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai penting seperti tolong-menolong, saling menghormati, dan kebersamaan dalam silaturahmi juga menjadi masalah. Orang-orang cenderung lebih fokus pada urusan pribadi atau pencapaian individu, tanpa memperhatikan hubungan sosial yang lebih luas di sekitar mereka. Mereka mungkin berpikir bahwa mencapai sukses pribadi lebih penting daripada menjaga hubungan dengan orang lain.

Kesadaran yang rendah ini juga terkait dengan perubahan nilai-nilai dalam masyarakat modern. Masyarakat sering kali lebih memprioritaskan hal-hal material atau pencapaian pribadi, daripada nilai-nilai tradisional seperti kebersamaan dan kegotongroyongan. Hal ini menyebabkan banyak orang yang menganggap silaturahmi sebagai sesuatu yang kurang relevan atau bahkan mengganggu dalam kehidupan sehari-hari.

4. Faktor Politik¬

Faktor politik juga memainkan peran dalam memudarnya budaya silaturahmi di Indonesia karena adanya perbedaan pandangan atau kepentingan politik. Terkadang, perbedaan politik dapat menyebabkan gesekan atau konflik antar individu atau kelompok yang kemudian mempengaruhi hubungan sosial dan rasa silaturahmi di antara mereka.

Perbedaan politik bisa menciptakan ketegangan dalam komunikasi, bahkan di antara anggota keluarga atau tetangga. Orang-orang mungkin cenderung menghindari atau membatasi kontak dengan mereka yang memiliki pandangan politik yang berbeda karena mereka ingin menghindari konflik atau ketegangan yang mereka tidak inginkan.

Selain itu, dalam ranah politik, orang sering menganggap silaturahmi sebagai sarana untuk memperkuat atau memperluas jaringan politik, bukan sebagai bentuk saling menghormati dan kebersamaan seperti yang seharusnya. Hal ini bisa membuat silaturahmi menjadi tidak sesuai kata hati karena diwarnai oleh motif politik atau kepentingan individu lainnya.

budaya silaturahmi di indonesia
Sc: Pinterest/sediksi.com

Bagaimana Kita Bisa Meminimalisir Pudarnya Budaya Menjalin Persaudaraan Antar Sesama Ini?

1. Memisahkan Perbedaan Ranah Politik

Dalam masyarakat yang demokratis, perbedaan politik adalah hal yang wajar. Namun, terkadang perbedaan ini dapat menciptakan adanya konflik di antara individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memisahkan perbedaan politik dari budaya atau nilai-nilai silaturahmi.

Hal ini memungkinkan kita untuk menciptakan kebersamaan dan saling menghormati sebagai prioritas utama dalam menjaga hubungan sosial antar sesama. Dengan cara ini, meskipun kita memiliki perbedaan politik, kita tetap dapat menjaga silaturahmi yang hangat dan saling mendukung satu sama lain. Selain itu, kita juga jangan terpengaruh dengan orang yang selalu membawa ranah politik untuk menjatuhkan oknum tertentu.

2. Menggunakan Waktu dengan Bijaksana untuk Menghindari Kesibukan dalam Waktu Bersamaan

Kehidupan yang padat sering membuat kita terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang sibuk. Namun, penting untuk mengatur waktu dengan bijaksana dan menempatkan silaturahmi sebagai bagian penting dari agenda harian kita. Dengan merencanakan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga, teman, dan tetangga, kita dapat memperkuat hubungan silaturahmi dan memastikan bahwa budaya silaturahmi tetap hidup dan akan selalu menjadi budaya di Indonesia yang tak akan pernah hilang.

3. Tidak Terpaku dengan Teknologi dan Tetap Berkomunikasi Secara Langsung

Di zaman teknologi yang canggih ini, sering kali kita terjebak dalam kegiatan yang terus-menerus melalui perangkat digital. Walaupun begitu, kita harus ingat bahwa komunikasi secara langsung dengan orang lain memiliki nilai yang sangat penting. Oleh karena itu, kita perlu menahan diri agar tidak selalu terpaku dengan teknologi dan memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu secara langsung dengan orang lain. Dengan memprioritaskan hubungan antarpribadi, kita dapat memperkuat tali persaudaraan kita dan mencegah pudarnya budaya silaturahmi di Indonesia.

Itulah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi memudarnya budaya Silahturahmi di Indonesia dan cara untuk mencegahnya. Seperti yang sudah dibahas pada penjelasan sebelumnya bahwa budaya silaturahmi itu sangat penting untuk selalu dilestarikan, tidak hanya ketika hari raya saja dilakukan tetapi kita dapat melakukannya kapan pun dan di mana pun kita berada. Terutama bagi generasi muda yang mungkin menganggap bahwa budaya silaturahmi ini tidak terlalu penting, tetapi sebagai generasi penerus bangsa tentu saja kita harus tetap melestarikan budaya silaturahmi ini ke generasi berikutnya.

Baca juga: Kepedulian Sosial Remaja


Writer: Ni Putu Dian Pramudyadewi | Editor: Kayla Adzkia Shabrina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *